"Ikutilah jalan-jalan kebenaran itu dan jangan hiraukan walaupun sedikit orang yang mengikutinya ! jauhkanlah dirimu dari jalan-jalan kesesatan dan janganlah terpesona dengan banyaknya orang yang menempuh jalan kebinasaan! "(Fudhail bin ‘Iyadh) (Al-I’tishom, 112)

Tampilkan postingan dengan label Knowledge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Knowledge. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Oktober 2011

SEBAIK-BAIK KALIAN …

SEBAIK-BAIK KALIAN ADALAH ORANG YANG MEMPELAJARI AL-QUR’AN DAN MENGAJARKANNYA
Al-Muhaddits Al-’Allaamah Asy-Syekh Muhamad Nashiruddin Al-Albany rahimahullah menjelaskan di dalam salah satu kasetnya, mengomentari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Abdurrahman As-Sulamy dari Utsman bin Affan marfu’an (yang artinya), “Sebaik-baik kalian adalah orang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”.
Beliau berkata, “Di dalam hadits ini ada isyarat yang memerintahkan mempelajari Al-Qur’an. Bahwasanya sebaik-baik pengajar adalah yang mengajarkan Al-Qur’an. Andai saja para penuntut ilmu mengetahui itu, sesungguhnya di dalamnya ada manfaat yang besar.
Di antara fenomena yang tersebar luas di zaman kita bahwasanya engkau mendapatkan banyak da’i-da’I atau para pemula dalam menuntut ilmu, tampil untuk berdakwah, berfatwa dan menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia sementara dia tidak benar dalam membaca Al-Fatihah dengan makhraj-makhraj yang benar untuk setiap huruf. Sehingga engkau melihatnya mengucapkan sin seperti shod dan tho’ seperti ta’, dzal seperti zaai dan tsa’ sebagai siin. Jatuh dalam Lahan Al-Jalii apalagi Lahan al-Khofii.
Seharusnya -  adalah suatu keniscayaan – ia memperbaiki bacaan Al-Qur’an dan hapalannya. Agar ia membawakan ayat-ayat dengan baik dan berdalil dengannya dalam nasehat-nasehat, pelajaran-pelajaran dan dakwahnya.
Engkau dapatkan ia sibuk dengan menshohih dan mendho’ifkan, membantah ulama dan mentarjih diantara mereka. Dan engkau sering mendengar darinya kalimat-kalimat  yang lebih tinggi dari levelnya sendiri. Kadang ia berkata, “Menurut pandangan saya ..saya katakan ..pendapatku dalam masalah ini begini dan pendapat yang rojih menurutku begini”.
Lebih mencengangkan lagi, orang-orang seperti mereka engkau dapatkan tidak berbicara dalam masalah-masalah yang telah disepakati. Akan  tetapi selalu  – kecuali yang dirahmati Allah – berbicara dalam masalah-masalah khilaf, sehingga ia turut pula memberikan pendapat padanya. Jika ia kesulitan ia merajihkan di antara pendapat-pendapat. Aku berlindung kepada Allah dari riya’, dan cinta ketenaran.
Pertama aku nasehati diriku sendiri dan kedua untuk mereka; bahwasanya sebaik-baik perkara yang harus dimulai oleh seorang penuntut ilmu adalah menghapal Al-Qur’an karena Allah Ta’ala berfirman,
فذكر بالقرآن من يخاف وعيد
“Maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an orang-orang yang takut akan ancaman”.
(diterjemahkan dari : http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=5348)

MENUNTUT ILMU DENGAN BENAR

MENUNTUT ILMU DENGAN BENAR
Penulis : al Ustadz 
Imam Asy-Syatibi rahimahullah di Mukadimah ke dua belas dari kitab Al Muwafaqot menyebutkan cara terbaik untuk meraih ilmu syar’I  adalah mengambilnya langsung dari dari ahlinya yang menguasai ilmu tersebut.
Ulama mengatakan, “Sesungguhnya ilmu itu dulunya tersimpan di dada-dada para pengembannya, kemudian berpindah ke kitab-kitab lalu kuncinya ada pada para ahlinya”.
Asy-Syatibi berkata, “Ungkapan ini menunjukkan untuk mendapatkan ilmu harus mengambilnya dari ulama-ulama yang menguasainya, mereka adalah kunci-kuncinya tanpa diragukan lagi”.
Kemudian beliau melanjutkan,  “Apabila telah tetap bahwasanya harus mengambil ilmu dari ahlinya yang menguasainya. Maka untuk menempuhnya ada dua cara :
Pertama : Musyafahah (mengambil langsung dari lisannya, dan ini adalah jalan yang paling bermanfaat).”
Yaitu penuntut ilmu duduk di hadapan gurunya dengan benar, ikhlas dan fokus kepada ilmu. alangkah besarnya berkah dan rahmah duduk di majelis ilmu seperti ini.
Seringkali seorang penuntut ilmu membaca sebuah kitab, ia menghapalnya, dan mengulang-ulangnya tapi ia tidak mengerti. Apabila disampaikan oleh guru ia tiba-tiba bisa paham dengan mudah, dan ia mendapatkan ilmu itu di hadapan gurunya.

Sabtu, 29 Oktober 2011

Kesungguhan dan kenikmatan para salaf dalam menuntut ilmu

Imam Syafi'i pernah ditanya tentang semangatnya mempelajari ilmu adab,
"Bagaimana ketamakanmu terhadapnya?" Beliau menjawab, "Ibarat orang yang tamak mengumpulkan berbagai macam harta demi mencapai kepuasan terhadapnya.  Kemudian ditanya lagi, "Bagaimana cara kamu mencarinya?" Beliau menjawab "Sebagaimana seorang ibu sedang mencari anaknya yang hilang, dia tidak mencari apapun selain anaknya"
Imam Ahmad berkata "Aku mengembara untuk mencari hadits dan sunnah ke Tsughur, wilayah Syam, Sawahil, Maroko, Al-Jazair, Madinah, Irak, wilayah Hauran, Persia, Khurosan, gunung-gunung dan ujung dunia"
Abul Husain Ahmad bin Faris Al-Lughawi berkata, "Saya mendengar Ustadz Ibnu Al-'Amid berkata, "Saya tidak pernah menyangka bahwa di dunia ini ada kenikmatan lain yang lebih nikmat dari kepemimpinan dan kementrian yang aku jabat, Hingga suatu saat aku bisa menyaksikan diskusi yang terjadi antara Abu Qasim Ath-Thabrani dan Abu Bakr Al-Ji'ani.
Ath-Thabrani memiliki kelebihan dalam bidang hafalan dibanding dengan Abu Bakr, sedangkan Abu Bakr memiliki kelebihan dalam sisi kejelian dan kejeniusannya, hingga suara keduanya semakin meninggi dan tidak ada satupun yang terkalahkan.
Al-Ji'ani berkata, "Saya memiliki sebuah hadits yang tidak didapatkan dunia ini kecuali ada padaku". Ath-Thabrani berkata, "Mana?" Al-Ji'ani berkata "Telah berkata kepada kami Abu Khulaifah Al-Jumahi, berkata kepada kami Sulaiman bin Ayyub", Kemudian dia menyebutkan sebuah hadits.
Thabrani berkata "Telah berkata kepada kami Sulaiman bin Ayyub dan darikulah Abu Khulaifah Al-Jimahi telah mendengar, maka dengarkanlah hadits dariku, niscaya sanadmu akan menjadi 'Ali!
AL-Ji'ani pun tersipu malu, maka saya semakin yakin bahwa jabatan bukan segala-galanya. Saya kagum kepada Thabrani dan sangat senang kepadanya. (Siyar A'lamin Nubala)
Catatan:
Sanadnya menjadi 'Ali dengan sedikitnya perantaraan antara dia dengan Nabi, Sanad yang 'Ali adalah sanad yang dicari-cari oleh ahli hadits
Referensi
1. Rahasia Ibadah Generasi Shalih, Sami bin Muhammad. Cetakan Pustaka Iltizam
2. Menuntut Ilmu, Jalan menuju Surga. Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka At-Taqwa