"Ikutilah jalan-jalan kebenaran itu dan jangan hiraukan walaupun sedikit orang yang mengikutinya ! jauhkanlah dirimu dari jalan-jalan kesesatan dan janganlah terpesona dengan banyaknya orang yang menempuh jalan kebinasaan! "(Fudhail bin ‘Iyadh) (Al-I’tishom, 112)

Tampilkan postingan dengan label CHRISTOLOGY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CHRISTOLOGY. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Desember 2011

Keyakinan Umat Islam Tentang Isa Al-Masih

“Dia Bukan Tuhan dan Bukan Anak Tuhan”
Sesungguhnya keyakinan kaum muslimin tentang al-Masih adalah berdasarkan kepada al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Maka kami mengimani, bahwa Isa ‘Alaihi Sallam adalah salah satu hamba dari hamba Allah dan salah satu Rasul dari Rasul-Rasul Allah yang mulia. Allah mengutusnya kepada Bani Israel, menyeru mereka kepada Allah agar mentauhidkan dan menyembah-Nya.
Allah berfirman :
وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ
“Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”.  (al-Shaff: 6)
Jadi Isa ‘Alaihi Sallam bukan Tuhan atau sesembahan dan bukan putra Allah seperti yang diklaim oleh orang-orang Nasrani.
Allah berfirman:
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ
حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ  الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَماَ لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.”  (al-Maaidah: 72)
Allah berfirman:
وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ
“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?”  (al-Taubah: 30)
Kalimat pertama yang diucapkan oleh Isa ‘Alaihi Sallam, tatkala Allah membuatnya berbicara pada waktu ia berada dalam gendongan ibunya:
قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ ءَاتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا
“Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.”  (Maryam: 30)
Kami beriman bahwa Allah mendukungnya dengan beberapa mu’jizat sebagai bukti kebenaran.
Allah berfirman:
إِذْ قَالَ اللَّهُ يَاعِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلى وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدْتُكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنْفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي وَتُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ بِإِذْنِي وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَى بِإِذْنِي وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنْكَ إِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ
“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai `Isa putra Maryam, ingatlah ni`mat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israel (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.” (al-Maaidah: 110)
Kami beriman bahwa Isa ‘Alaihi Sallam dilahirkan dari rahim Maryam gadis perawan yang suci tanpa ayah. Hal ini tidak sulit bagi Allah karena jika Dia menginginkan sesuatu, Dia cukup mengatakan: “Jadilah” maka iapun jadi.
Allah berfirman:
إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Sesungguhnya misal (penciptaan) `Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” (Ali Imran: 59)

Selasa, 01 November 2011

MENYOROT TRINITAS

PENULIS:USTADZ ABUSALMA

Beberapa hari lagi umat Kristiani akan merayakan Christmast atau Natal. Jalan-jalan dan pusat perbelanjaan tidak mau ketinggalan meramaikan acara ini. Segala bentuk aksesoris seperti pohon natal, lampu dan semacamnya memadati dan memenuhi beberapa pojok toko dan ruas jalan. Umat Kristiani sedang berbahagia, merayakan kelahiran ‘Tuhan’ mereka, yang dipercayai lahir pada tanggal 25 Desember, walaupun tidak ada sedikitpun bukti bahwa Yesus dilahirkan pada tanggal tersebut.
Umat Kristiani meyakini, bahwa Yesus adalah satu pribadi dari oknum yang tiga, dan oknum yang tiga itu adalah pribadi satu. Sungguh suatu hal yang sangat sulit dicerna oleh akal. Demikianlah doktrin dasar agama Kristen, yaitu trinitas atau tritunggal. Satu berada dalam tiga dan tiga itu adalah satu. Secara logis matematis, doktrin ini adalah sebuah doktrin yang sangat tidak masuk akal, lagi tidak logis, karena suatu hal yang mustahil apabila dikatakan, 1 = 3 dan 3 = 1.
Mungkin, akan ada sebagian kaum Kristiani yang akan menjawab, bahwa masalah doktrin itu masalah keimanan, bukan masalah logis dan tidak logis. Kita tidak berhak mempertanyakan esensi dan hak Tuhan, namun Tuhan-lah yang berhak mempertanyakan kita. Tuhan adalah Maha Berkehendak, apabila Ia menghendaki sesuatu, maka itu adalah kehendak-Nya dan Ia mampu melakukannya. Apa hak kita menggugat otoritas Tuhan? Sekiranya Tuhan menyatakan bahwa diri-Nya berinkarnasi menjadi manusia, maka wajib kita mengimaninya. Karena Tuhan mampu melakukan apa saja yang Ia kehendaki.
Demikian kurang lebih argumentasi yang akan dilontarkan oleh mereka. Baiklah, sekarang mari kita telaah argumentasi mereka ini.
Pertama, manusia dianugerahi akal yang dengannya ia bisa memahami dan menjangkau sesuatu, walau pada batas dan limitnya. Dengan akal, kita bisa memahami bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini pastilah ada yang menciptakan dan mengaturnya. Akal yang sehat tidak mungkin menetapkan bahwa alam semesta ini ada dengan sendirinya, sebagaimana pemahaman kaum atheis yang dungu. Beragama dan bertuhan bahkan merupakan naluri alami manusia. Akal sehat kita menyatakan bahwa Tuhan itu pastilah Sang Maha Sempurna, yang tidak memiliki aib dan cacat. Apabila memiliki aib dan cacat, maka telah hilanglah sifat ketuhanannya.
Tidak mungkin Tuhan yang Maha Sempurna itu bersifat membutuhkan, menderita, menangis, tersiksa, buang air, bahkan terbunuh. Apabila ada ‘Tuhan’ yang diatributkan dengan sifat-sifat ini, maka telah hilanglah sifat kemahasempurnaannya dan divinitas (ketuhanan)-nya. Yesus, yang dianggap Tuhan, ia menderita, menangis, tersiksa dan semisalnya yang merupakan sifat dan tabiat alami manusia.
Mungkin, kaum Kristiani masih berargumentasi dengan cara yang sama, bahwa Tuhan mampu dan berhak untuk melakukan hal tersebut di atas. Maka saya jawab kembali : apabila Tuhan berkehendak diri-Nya menjadi hamba, sedangkan Ia Maha Berkehendak, lantas siapakah yang menjadi Tuhan? Apakah Tuhan pada saat itu telah menjadi Tuhan sekaligus Hamba? Ia akan berdoa kepada diri-Nya sendiri, “Wahai Tuhan-Ku, yaitu diri-Ku sendiri, tolonglah Aku”. Lalu Tuhan pun menolong diri-Nya sendiri. Aduhai dimanakah akal dan logika sehat ?!!