"Ikutilah jalan-jalan kebenaran itu dan jangan hiraukan walaupun sedikit orang yang mengikutinya ! jauhkanlah dirimu dari jalan-jalan kesesatan dan janganlah terpesona dengan banyaknya orang yang menempuh jalan kebinasaan! "(Fudhail bin ‘Iyadh) (Al-I’tishom, 112)

Tampilkan postingan dengan label Adab Dan Akhlaq. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab Dan Akhlaq. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 November 2011

Adab dalam Islam dan Perhatian Salaf Terhadapnya

Penulis : Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc
Adab dalam pandangan Islam bukanlah perkara remeh. Bahkan ia menjadi salah satu inti ajaran Islam. Demikian penting perkara ini, hingga para ulama salaf sampai menyusun kitab khusus yang membahas tentang adab ini.
Di tengah padang sahara yang membakar, bergolak kehidupan masyarakat jahiliah yang tidak mengenal kebaikan kecuali apa yang diwariskan oleh nenek moyang. Penyimpangan dari agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam (mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadah) tercermin pada banyaknya berhala yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Masing-masing kabilah memiliki berhala yang mereka yakini mampu mendatangkan manfaat dan menolak marabahaya. Bahkan kesucian Ka’bah pun telah tercemari dengan berdirinya sekian ratus berhala yang diagung-agungkan di sekitarnya.
Dari sisi tatanan kehidupan bermasyarakat, mereka telah mencapai titik terparah. Tidak ada pemimpin yang menyatukan mereka, sehingga masing-masing ingin berkuasa dan menindas yang lainnya. Berlaku bagi mereka undang-undang jahiliah: “Siapa yang kuat dia yang menang.” Kejahatan moral dan penyimpangan kesusilaan merupakan pemandangan yang mewarnai kehidupan sehari-hari.
Demikian gambaran kondisi bangsa Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan rahmat-Nya mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengeluarkan mereka dari gelapnya kekufuran dan kebodohan kepada cahaya iman dan ilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.(Al-Jumu’ah: 2)